/////
you're reading...
Artikel., Marketing

Catatan Branding: Growth Beyond The Core ala Ahmad Dhani Share


Bagi anda yang berdomisili di Indonesia, siapa yang tidak kenal Ahmad Dhani ?

Terlepas dari segala kontroversi mengenai Ahmad Dhani yang selalu menghiasi perilakunya ada baiknya juga memahami sisi lain dari Ahmad Dhani yang sangat mumpuni dalam berbisnis. Maka tulisan ini mencoba melihat bagaimana kejeniusan Dhani dalam membangun Republik Cinta Manajemen menjadi salah satu manajemen artis yang hampir membuat persaingan menjadi irelevan (bahkan sampai saat ini!!)

Sebelum membahas lebih lanjut sepak terjang Ahmad Dhani dengan RCM nya, paling tidak mari kita simak gambaran umum pasar musik di Indonesia saat ini:

1. Life Cycle Band/artist saat ini sangat cepat sekali
hal ini bisa dilihat dari bagaimana suatu artis muncul kemudian meledak lalu kemudian tenggelam dengan cepat.

2. Fitur dari masing-masing Band sudah tidak bisa dibeda-bedakan antara satu band dengan band yang lain. Mungkin ini pula yang membedakan band yang memiliki keunggulan kompetitif dengan yang tidak. Tentunya kita masih ingat akan keberadaan band-band jaman dulu yang masih kuat sampai sekarang seperti Gigi, Dewa, atau Kla Project misalnya.

3. Strategi yang diusung adalah berorientasi kepada selera pasar. Hal ini juga ditunjukkan dengan bagaimana miskinnya kreatifitas dalam bermusik sehingga apabila terdapat aliran musik yang ngetren saat ini maka akan muncul banyak pengikut yang ingin mengekor kesuksesan sang pendahulu. it’s fad marketing strategy dude.

4. Diferensiasi yang jelas antara satu band dengan band yang lain semakin memudar. Coba aja lihat personilnya baik muka, baju,atau bahkan gaya rambutnya cenderung mirip-mirip. Asal-asalan dalam memilih nama band dan satu lagi, ciri khas grupnya tidak dibangun secara serius bahkan cenderung dirusak oleh “oknum” anggota band yang banyak berulah dan entah kenapa biasanya si pembuat ulah adalah sang vokalis (kecenderungannya sih)

terlepas dari gambaran umum industri musik kita yang cenderung generik. Ahmad Dhani dengan RCM nya menunjukkan kemampuannya untuk menjadi berbeda dengan yang lain.

Apa yang dilakukan oleh Dhani??

Dalam khazanah teori bisnis saya tertarik dengan ide Chris Zook mengenai konsep “growth beyond the core”

kata kunci dari growth beyond the core adalah repeatable formula. Formula yang bisa diulang inilah yang dijadikan sebagai senjata kita untuk keluar dari jebakan core bisnis kita. Keluar dari core bisnis bukan berarti hanya keluar dari bisnis inti saja tetapi keluar dari jebakan bisnis yang cash flow nya semakin tergerus karena persaingan sudah sedemikian berdarah-darah atau biasa disebut sebagai red ocean.

Menterjemahkan blue ocean itulah yang dilakukan oleh Ahmad Dhani dengan cara:

1. Memperluas visinya dalam memahami dinamika pasar yang jauh lebih luas (broad market vision) dibandingkan terjebak pada pasar yang sempit atau generik (narrow focus). Sadar bahwa Dewa akan memasuki fase menurun membuat Dhani berpikir keras agar cash flow dari bisnis utamanya tidak tergerus terus menerus.

Dalam kasus ini Dewa 19 menjadi pembelajaran terpenting bagi terasahnya sisi bisnis maupun individual Dhani dalam memahami hiruk pikuknya dunia musik tanah air. Kemampuan Dhani memperpanjang life cycle Dewa 19 menunjukkan bagaimana perkembangan Dewa dari sejak fase infant sampai kemudian tumbuh menjadi band remaja serta menjadi semakin dewasa.

Visionernya karena sepanjang sepak terjang Dewa, mereka berkembang melewati target segmen awal mereka. Ketika awalnya pasar yang dibidik adalah remaja maka sepanjang perjalanan lagu-lagu Dewa pun ternyata bisa dinikmati secara lintas segmen. Masih ingat lagu “SATU”?? Lagu ini ternyata menjadi ngetop karena tidak hanya disenangi remaja dengan cinta platonisnya tetapi juga dianggap lagu yang mewakili segmen dewasa karena dipersepsikan memiliki nilai relijius. Apa yang dilakukan oleh Dhani ini disebut juga sebagai menguasai segmen dari atas sampai bawah (vertical market demand).

2. Repeatable Formula.
Akumulasi pengalaman dengan Dewa lah yang kemudian mengasah kemampuan melihat peluang keluar dari segmen utama yang selama ini dilayani oleh Dewa, maka dengan kemampuan itulah Dhani sepertinya mampu mengulangi formula yang sama dengan pengalaman yang dimiliki Dewa untuk membuat bisnis-bisnis baru melalui produk-produk baru seperti Mulan Jameela, Dewi-Dewi (MAhadewi) dan The Virgin serta Andra and the Backbone misalnya dan juga mampu bergerak ke luar dari mainstream pop menjadi dangdut, rock, swing dan jazz. Inilah luar biasanya karena semuanya sudah dikalkulasikan dari sisi bisnis dipadukan dengan pengalaman yang dimiliki oleh Ahmad Dhani. Memanfaatkan peluang inilah yang disebut sebagai lateral market demand

Hal ini dilakukan karena Dhani sadar bahwa Dewa akan memasuki life cycle mature dan kemudian decline namun dengan strategi yang tepat dia masih mampu memainkan strategi reminding dengan menciptakan single-single yang bisa membuat orang untuk tetap ingat Dewa namun cash cow nya bukan lagi di Dewa tetapi sudah menjadi banyak dan bukan tidak mungkin kita menantikan formula berulang ala Ahmad Dhani dalam menciptakan merek band baru yang sangat sukses.Jadi? Go vertical dan lateral!

Menarik ditunggu!!

About Chras D. S.

I wanna be A good writer . . .

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Alexa Rate

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: