/////
you're reading...
NEW 2010 SERI INVESTASI!

SERI 3: Bisnis Waralaba.


Plus-Minus Investasi Waralaba

Tohar Ota belajar dari kegagalan. Pria 35 tahun ini justru tertantang menggeluti waralaba makanan setelah gagal mengelola sebuah resto bakmi. Gerai yang baru dibukanya di kawasan Jakarta Selatan itu terpaksa dia tutup karena omset yang terus melorot.“Dalam kondisi sedang tidak bagus, franchisor kurang peduli dan tetap meminta fee 6% di muka,” ungkap Pipiep, panggilan akkrab Tohar Ota, yang memutuskan menghentikan kerja sama.

Tidak berlama-lama menyesali diri, Tohar berburu waralaba makanan yang lain. Pilihannya jatuh pada RM Padang Sederhana Bintaro. Alasannya? “Rumah makan Padang lebih establish, tak mengenal tren,” ujarnya. Selain itu, “Awareness-nya di masyarakat sudah ada dan menu serta rasanya juga bagus,” tutur Tohar yang senang karena franchisor barunya memberi kebebasan untuk ikut di operasional. “Manajemennya jauh lebih baik dan terbuka,” katanya memuji.

Investasi waralaba makanan memang masih menjadi pilihan favorit para pengusaha. Tak hanya kalangan pengusaha, bahkan para pakar waralaba pun menjawab hal sama ketika ditanya SWA dalam survei pilihan investasi waralaba. Sektor makanan menduduki peringkat kedua dengan total nilai 4,2 di Jabodetabek dan 4,3 di luar Jakarta sebagai pilihan investasi paling favorit (lihat Tabel).
Makanya, seperti Tohar, kendati gagal di bisnis yang serupa, ia tidak menyerah. Ia tetap memilih bisnis makanan sebagai investasi waralabanya.“Bisnis makanan tidak lekang dimakan zaman. Semua orang butuh makan, tinggal bagaimana kita mengemas dan menarik konsumen,” demikian alasan Tohar.

Dinyatakan Dewi Astuti, pengajar Universitas Kristen Petra Surabaya dalam kajiannya tentang bisnis franchise makanan di Indonesia, ada beberapa alasan mengapa waralaba makanan tergolong paling hot dibandingkan jenis waralaba lain. Pertama, karena pergeseran budaya tradisional menjadi budaya modern sehingga membuat bisnis waralaba makanan berkembang. Kedua, menu makanan biasanya menjangkau seluruh lapisan umur, sehingga pasarnya menjadi sangat luas dan terbuka. Ketiga, bisnis waralaba makanan mengantisipasi perubahan gaya hidup. Bahwa makan di luar adalah kebutuhan yang tidak bisa dihindari dan suasana makan di luar dibutuhkan untuk mengimbangi stres dan ketatnya pekerjaan.

Berbagai faktor itu mendorong waralaba makanan tidak pernah surut dari tahun ke tahun. Menurut Himawan Wijanarko, GM Partner Strategis The Jakarta Consulting Group, diperkirakan jumlah waralaba makanan mencapai 45% dari total keseluruhan usaha waralaba di Indonesia. Waralaba makanan menjadi primadona investor karena sifat produknya yang merupakan kebutuhan pokok. Produk makanan juga memiliki ragam investasi, dari yang besar sampai kelas gerobak. “Wajar saja kalau waralaba jenis ini paling dominan,” ujar Himawan menilai popularitas bisnis makanan karena seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat.

Dari sisi return on equity, Dewi juga menyimpulkan, ROI bisnis makanan secara umum sangat tinggi, sehingga dapat menutup startup cost franchise yang relatif mahal. Hal ini, seperti yang dikatakan Togar, hanya membutuhkan waktu satu tahun, RM Padang Bintaronya sudah dapat untung. Itu sebabnya, 9 bulan kemudian Tohar berani membuka satu gerai baru lagi. “Yang pertama di daerah Pancoran, sedangkan rumah makan kedua buka di daerah Petamburan, Slipi,” kata Tohar yang mengaku menghabiskan sekitar Rp 4 miliar sebagai investasi.

Pada prinsipnya, jika ingin mengambil waralaba makanan, menurut Tohar, harus memperhatikan citra brand-nya, jenis bisnis makanan yang dipilih, manajemen dan lokasinya. Secara khusus Dewi menunjukkan bahwa yang menjadi penghambat bisnis waralaba makanan adalah kemampuan manajerial yang rendah, lalai dan kurang komitmen. “Walaupun franchisor memberikan bantuan pengelolaan, harus diingat mereka hanya konsultan, franchisee tetap yang harus menjadi pelaksana yang dituntut siap kerja keras,” tulisnya.

Artinya, kendati secara bisnis pasti menguntungkan, franchisee jangan berleha-leha. “Disiplin terhadap semua lini,” kata Tohar. Disiplin berarti mematuhi SOP yang sudah ditetapkan. “Misalnya, mematuhi cara pemasakan agar rasa sesuai dengan standar yang ditetapkan.”

Sesungguhnya, tak hanya di bisnis makanan dibutuhkan disiplin tinggi. Di sektor pendidikan –berdasarkan survei SWA, para pakar sangat merekomendasikan sebagai pilihan investasi yang pertama di luar Jakarta (nilai 4,5), dan peringkat 8 di Jabodetabek (nilai 3,8) — juga wajib mematuhi aturan main yang berlaku. Pengalaman Heru Suwanto, franchisee lembaga pendidikan Primagama, menunjukkan hal itu. “Manajemen tegas. Kami harus menjaga operasional sesuai dengan SOP,” ujar Heru yang tahun lalu memperpanjang kontrak kembali dengan Primagama. Diakuinya, untuk kawasan Jabodetabek, sektor yang digelutinya ini memang mengalami kejenuhan. “Untuk itu, perlu dicarikan strategi dan inovasi. Dengan adanya pesaing, Primagama tertantang memperbaiki diri,” Heru menandaskan lagi.

Mantan karyawan perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat, Arco, ini sengaja memilih lembaga pendidikan karena ketika hendak berinvestasi tahun 2001, ia melihat Primagama lebih eksklusif dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. “Primagama didukung sistem dengan kapabilitas tinggi yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lainnya,” kata Heru yang mengalami masa keemasan tahun 2003-04.

Kini, diakuinya, secara umum jumlah siswa menurun. Pertumbuhannya hanya sekitar 5% per tahun. Menurut pemilik beberapa cabang Primagama di Jakarta Timur dan Bekasi itu, kondisi tersebut bukan saja dialami seluruh cabang Primagama, tetapi juga lembaga pendidikan lainnya. “Mungkin ini pengaruh krisis global dan persaingan memang cukup tajam untuk bimbingan belajar ini,” ungkapnya. Namun, Heru tetap optimistis dengan pertumbuhan bisnis Primagama.

Dari pengalaman mengelola waralaba pendidikan, Heru mengingatkan, ada prinsip-prinsip dasar waralaba yang tidak boleh diabaikan. Lokasi, misalnya, adalah hal paling penting di luar kesepakatan yang bersifat administratif lainnya. Selain itu, harus punya diferensiasi. “Kami harus beda dari bimbingan belajar lainnya,” ujarnya. Misalnya, sebelum masuk kelas melakukan kegiatan belajar mengajar, calon murid harus melakukan tes sidik jari untuk mengetahui minat bakat anak sedini mungkin.

Dan satu hal lagi, karena kompetisi yang semakin tinggi, Heru menyarankan membuka waralaba pendidikan di daerah permukiman. Permukiman padat, menurutnya, sangat berpotensi memacu pertumbuhan lembaga pendidikan. “Justru bukan di daerah perkotaan atau dekat dengan sekolah,”ungkapnya.

Bukan hanya lembaga pendidikan yang berlomba-lomba memasuki daerah pemukiman, ritel pun demikian. Perkembangan sekaligus persaingan waralaba ritel memang terlihat sangat jelas. Kini, di setiap permukinan, dalam jarak kurang dari 500 meter telah tumbuh Alfamart ataupun Indomaret yang seperti tak mau kalah menarik perhatian pengunjung.

Para pakar waralaba menempatkan bisnis ritel minimarket pada posisi ke-15 sebagai bisnis layak investasi di Jabodetabek (nilai 3,7). Sementara di luar Jakarta, bisnis ritel minimarket masih atraktif di posisi ke-7 dengan nilai 4,0. Mengapa? Menurut Henry Komala, VP Director Alfamart, pasar Jabodetabek sudah sangat jenuh. Maka, pihaknya memang akan memprioritaskan pasar luar Jakarta. “Kami berencana membuka 400-500 gerai baru di 2009 yang difokuskan ke wilayah Jawa dan Lampung,” ujarnya. Alfamart berharap akan terus merangsek ke seluruh Indonesia dengan jumlah gerai saat ini mencapai hampir 3.000-an.

Seperti bisnis makanan, bisnis ritel juga tidak lekang oleh zaman. Dikatakan Himawan Wijanarko, minimarket menunjukkan pertumbuhan yang sangat mengagumkan, seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat. “Saya yakin, di masa depan waralaba minimarket makin tak terbendung lagi keberadaannya,” ujar Himawan, Ia meyakini, di tengah kompetisi yang keras, memulai bisnis baru pasti semakin sulit. Risiko semakin tinggi serta biaya komunikasi pemasaran semakin membengkak. Sementara itu, kebutuhan produk sehari-hari terus meningkat. “Makanya, minimarket jelas paling prospektif di masa yang akan datang,” katanya yakin.

Keyakinan itu sudah dijawab Melinda Priyatno yang terjun ke bisnis waralaba. Sejak 2006 ia mencoba peruntungan menjadi franchisee Alfamart. Mengapa Alfamart? Ia melihat bisnis ini dikelola oleh perusahaan yang telah berpengalaman di bisnis ritel. Keterlibatan franchisee tak terlampau tinggi karena untuk urusan keuangan dan delivery order sudah ditangani langsung pihak Alfamart. Dari urusan menyusun laporan keuangan, urusan pajak sampai memeriksa ketepatan waktu pengiriman barang sudah cukup solid. “Saya bisa sambil mengerjakan bisnis lain, di samping bisnis yang ini tetap berjalan,” ungkap mantan staf Divisi Investigasi Bank ANZ itu.

Tak mudah bagi Melinda meyakinkan Alfamart untuk menjadi franchisee-nya. Dua kali ia mengajukan keinginan, barulah permohonan kedua yang dikabulkan. “Saya sempat putus asa, kalau tidak jadi Alfamart, ya sudah saya buka toko kelontong biasa saja di sini,” ujar Melinda yang membuka gerai di kawasan Maleo, Bintaro Jaya Sektor 9 .

Yang menarik, tak lama setelah Alfamart buka, datang StarMart dan Indomaret berjejer di sebelahnya. Melinda sempat ketar-ketir, tetapi pihak Alfamart meyakinkan, dengan memberikan layanan terbaik, pelanggan tidak akan lari.“Ya, kami harus mempertahankan loyalitas pelanggan ini,” ungkap Melinda yang omsetnya sempat turun 20% tatkala Indomaret buka.

Pada akhirnya Melinda percaya, di dalam persaingan di bisnis apa pun, masing-masing mempunyai pasar sendiri. Pasar hypermarket dan supermarket menyasar segmen yang berbelanja bulanan dan segmen menengah-bawah, sedangkan minimarket lebih ke segmen yang belanja mingguan dan belanja harian.”Alfamart dan Indomaret sama-sama kuat. Yang jelas, konsumen mencari yang lebih murah, nyaman dan lengkap,” papar Melinda yang melihat Alfamart lebih terang, bersih dan memperhatikan kenyamanan daripada pesaingnya.

Budi Suryono, pemilik lima gerai minimarket waralaba Alfamart yang tersebar di wilayah Jakarta, Bekasi dan Cikarang, juga meyakini, seketat apa pun persaingannya, waralaba minimarket masih potensial di wilayah pinggiran Jakarta. Jumlah populasi pasar yang sangat tinggi dan konsumen mulai sadar dengan pola belanja yang nyaman: dingin ber-AC dan bersih, juga dilayani dengan ramah, adalah indikasinya. “Lihatlah di perumnas-perumnas, misalnya, mereka makin terbiasa dengan minimarket,” ujarnya.

Walaupun demikian, Budi mengingatkan, bergelut di bisnis waralaba tetap harus memiliki bekal moral dan material. Yang perlu dilakukan adalah, pertama, melihat dengan cermat apakah bisnis waralaba ini bagus karena booming (tren) atau tidak. Kedua, melihat kembali rekam jejak penjual waralabanya, bagaimana sepak terjang dan pengalamannya. Ketiga, mencari mitra franchisor yang memiliki misi dan target jangka panjang.

Tentang karakteristik bisnis waralaba perdagangan, Budi menegaskan, yang paling utama harus dimiliki adalah feeling, intuisi dan analisis melihat prospek ke depan. Dan tak kalah penting, belajar dan membaca banyak informasi tentang bisnis ini.

Burang Riyadi, mitra konsultan franchise International Franchise Business Management, menambahkan, pada prinsipnya hubungan franchisor-franchisee akan melewati masa-masa:
dependent, interdependent & independent. Sebagai orang yang membayar, franchisee akan “merasa” perlu mendapatkan “setiap” hal yang dia butuhkan. Hal ini mengarah ke sikap franchisee yang tidak mau mendengar petunjuk franchisor. Franchisee akan cenderung meminta-minta dan menuntut kepada franchisor. Situasi yang demikian akan menjadikan franchisee merasa super saat mereka bertahan dan merasa tidak membutuhkan franchisor lagi.

Menurut Burang, masa kritis biasanya datang pada tahun pertama. Atau, bahkan 6 bulan
pertama saat memulai usaha. Jika franchisor membiarkan situasi yang kurang kondusif ini berlarut-larut, rasa respek dari franchisee akan hilang dan mereka akan segera memutuskan kerja sama.

Intinya, peluang dan risiko investasi waralaba tidak hanya tergantung pada pilihan sektor bisnis yang diterjuni, tetapi juga karakteristik dan lingkungan bisnis yang dibangun antarmitra kerjasama. “Harus ada saling kesepahaman agar bisnis berjalan optimal. Kerja sama waralaba tidak melulu karena modal uang, melainkan juga dibutuhkan komitmen dan kepercayaan,” kata Burang tandas.

Waralaba atau Bukan?

Dunia waralaba memang sangat dinamis. Beberapa manuver dilakukan oleh para pebisnis sehingga model waralaba sangat beragam sekarang. Akibatnya, tidak sedikit pihak yang menjadi bingung dan bertanya-tanya, “Sebenarnya waralaba itu apa sih?”

Waralaba Format Bisnis Seutuhnya

Waralaba format bisnis seutuhnya dikenal dengan istilah Full Business Format Franchise. Dari namanya, kita dapat menyimpulkan bahwa pewaralaba (franchisor) akan memberikan pedoman kepada terwaralaba (franchisee) mengenai sistem bisnis seutuhnya, mulai dari penggunaan merek dan ciri khas usaha, strategi pemasaran, serta sistem administrasi dan manajemennya.

Waralaba format bisnis seutuhnya antara lain dapat dijumpai pada waralaba: McDonald’s (McD); Kentucky Fried Chicken (KFC); International Language Programs (ILP); Apotek K-24; Indomaret; Alfamart; Holiday Inn; Novotel; dan beberapa merek lainnya.

Bagi beberapa praktisi, Indomaret dan Alfamart kerap dianggap bukan waralaba, karena terwaralaba tidak terlibat dalam mengoperasionalkan bisnisnya. Menurut pandangan saya, keduanya adalah waralaba, karena pola mereka mirip dengan waralaba lisensi manajemen dalam dunia perhotelan yang umumnya juga tidak mewajibkan keterlibatan investor secara langsung dalam operasional sehari-harinya.

Waralaba format bisnis seutuhnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang dioperasionalkan oleh terwaralaba (misalnya: ILP; Apotek K-24; McD; dan KFC); sedangkan yang “dioperasionalkan” oleh pewaralaba (misalnya: Indomaret; Alfamart; Holiday Inn; dan Novotel). Meski disebut dioperasionalkan oleh pewaralaba, sebenarnya keterlibatan pewaralaba lebih pada supervisi yang melekat alias intensif di lokasi gerai.

Dalam hal waralaba perhotelan, pewaralaba menempatkan general manager (GM) sebagai wakil mereka untuk menjaga standar kualitas layanannya. Seluruh pegawainya adalah pegawai terwaralaba. Bila terjadi PHK, maka terwaralaba yang menanggung pesangon para pegawai itu. Adapun pengelolaan keuangan dan wewenang terwaralaba dalam pengambilan keputusan tergantung pada kesepakatan bersama yang diatur dalam perjanjian waralaba.

Pola seperti ini sebenarnya bisa dan sangat baik diterapkan untuk bisnis jasa yang kualitas layanannya perlu dijaga ketat. Waralaba restoran dapat menempatkan koki dari pewaralaba di lokasi terwaralaba. Waralaba sekolah (pendidikan) dapat menempatkan kepala sekolah dari pewaralaba.

Konsekuensi dari menempatkan GM, koki, dan kepala sekolah tersebut adalah pewaralaba harus mampu memiliki – atau mencetak – sebanyak mungkin staf berkualitas untuk posisi-posisi ini menurut kebutuhan ekspansi usahanya.

Di antara pewaralaba yang menjadi operator bisnis milik terwaralaba, ada yang seluruh pegawainya merupakan pegawai pewaralaba. Salon seperti Johnny Andrean dan My Salon menggunakan pola ini. Keuntungannya adalah pewaralaba dapat melakukan rotasi pegawai menurut kebutuhan. Namun praktik seperti ini berpotensi menuai protes dari pihak investor yang menjadi terwaralaba, sehingga tampaknya mereka tidak mempraktikkan rotasi.

Kelemahan sistem ini adalah risiko bahwa pewaralaba akan mengalami kesulitan dalam mengelola karyawan pada saat jumlah gerai mencapai angka tertentu. Kelemahan lainnya adalah konsekuensi bila melakukan PHK yang ada di pundak pewaralaba, karena status kepegawaiannya adalah pegawai pewaralaba.

Waralaba Lisensi Merek Dagang

Waralaba ini dikenal dengan istilah Trade Name Licensing. Tujuan waralaba ini lebih pada kepentingan distribusi produk. Yang membedakan antara waralaba lisensi merek dagang dengan waralaba lisensi merek adalah pada strategi dan kegiatan promosinya.

Untuk memperjelas perbedaan di antara keduanya, kita gunakan pabrik yang menjadi produsen sari jeruk Sunkist di Indonesia. Pabrik ini mengikat perjanjian lisensi dengan pemilik merek Sunkist, bila pemilik merek tidak menyusun secara khusus strategi dan implementasi komunikasi pemasaran untuk produk sari jeruk Sunkist.

Bila pemilik merek memberikan strategi dan melakukan kegiatan kampanye komunikasi pemasaran untuk produk sari jeruk Sunkist, maka pola hubungan antara pemilik dengan pabrik yang memproduksi adalah hubungan waralaba.

Itulah sebabnya hubungan antara Coca-Cola International dengan Coca-Cola bottlers dinyatakan sebagai hubungan waralaba, karena Coca-Cola International mengelola strategi dan kegiatan komunikasi pemasaran minuman Coca-Cola.

Saya kadang menyebut waralaba ini sebagai waralaba format bisnis tidak seutuhnya, karena keterlibatan pewaralaba hanya terbatas pada strategi dan kegiatan komunikasi pemasaran. Aspek administrasi dan manajemen lainnya tidak distandardisasi oleh pewaralaba. Meski demikian, umumnya pewaralaba memiliki hak untuk melakukan audit keuangan dan kualitas produk yang dihasilkan, serta layanan yang diberikan oleh terwaralaba.

Tidak mudah untuk memastikan suatu waralaba lisensi merek dagang yang ada di Indonesia saat ini benar-benar menjalankan peran dari segi komunikasi pemasaran dan pengawasan kualitas produknya. Belum lagi beberapa merek yang dipersepsi sebagai waralaba ternyata pemilik mereknya mengaku hanya “paket peluang usaha” atau “peluang usaha kemitraan”.

Tren Waralaba di Indonesia

Membangun waralaba format bisnis seutuhnya membutuhkan upaya yang cukup rumit. Itulah sebabnya sekarang lebih banyak bermunculan waralaba lisensi merek dagang. Sebagian dari mereka bahkan cenderung merupakan lisensi (bukan waralaba), karena tidak ada strategi dan kegiatan komunikasi pemasarannya.

Beberapa di antaranya bahkan tidak mengelola pengawasan standar kualitasnya dengan serius, sehingga pola yang digunakan sesungguhnya tidak memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori baik waralaba maupun lisensi.

Bila waralaba suatu jenis merek martabak misalnya, tidak standar rasa asinnya, di gerai tertentu sangat pedas, sedangkan di gerai lainnya bisa garing alias crispy, dan di gerai lainnya lagi malah lembek, maka merek yang disandang oleh beberapa gerai itu tidak ada artinya. Lebih baik setiap gerai memakai merek sendiri-sendiri.

Pemilik merek martabak itu sebaiknya menawarkan paket usaha (business start up package) tanpa embel-embel merek tertentu, karena merek itu akhirnya malah menyesatkan dan membingungkan masyarakat.

Bayangkan seandainya ada pelanggan yang suka dengan kegaringan martabak di suatu gerai, kemudian membeli di gerai lain ketika berada di lokasi lain karena kesamaan merek, ternyata di tempat itu martabaknya tidak crispy. Akhirnya, seluruh jaringan gerai martabak ini kena getahnya. Merek yang dipajang bukannya menciptakan persepsi tertentu yang membangun sejumlah pasar potensial, melainkan menjadi merek yang membuat orang ragu-ragu untuk membeli. Dari mulut ke mulut akan tersebar kabar mengenai tidak jelasnya citarasa martabak merek yang satu ini. Masyarakat yang hendak membeli menjadi takut kalau-kalau rasa martabaknya tidak seperti yang diharapkan.

Pernah pula terjadi, saudara sepupu dari terwaralaba suatu merek burger bercerita bahwa pewaralaba menyuruh terwaralaba membeli burger dari supermarket karena tidak sanggup lagi memasok burger yang dibutuhkan oleh terwaralabanya. Gawat kan?

Beberapa pebisnis pempek yang pernah berdiskusi dengan saya mengakui bahwa setiap tahun ada masa kelangkaan bahan baku ikan selama sekitar dua bulan, disebabkan faktor alam. Meski pasokan masih bisa didapat dalam jumlah tertentu, harga ikan cenderung melambung tinggi pada bulan-bulan itu. Fluktuasi seperti ini harus diantisipasi. Kelangkaan ini harus dicari solusinya sebelum mewaralabakan bisnis pempek.

Dari sisi operasional, meski tidak semua, beberapa investor untuk modal di atas Rp 200 juta sering kali mengharapkan pewaralaba yang menjadi operator bisnisnya. Itu sebabnya waralaba seperti Indomaret dan Alfamart banyak peminatnya dan pertumbuhannya amat cepat.

Dari sisi daya beli (tepatnya daya investasi), waralaba dengan modal di bawah Rp 50 juta memiliki peluang untuk tumbuh dengan pesat. Hanya saja, investor yang hendak menjadi terwaralaba harus cermat mengamati waralaba jenis ini. Apakah benar-benar waralaba; atau sebenarnya semacam lisensi; atau bahkan tidak memenuhi syarat baik sebagai waralaba maupun lisensi.

Bagi anda yang ingin mempelajari berbagai waralaba yang ada di indonesia dan sedang berkembang tahun-tahun ini, silahkan buka website di bawah ini. Disana terdapat katalog berbagai macam waralaba yang ada di indonesia dan penjelasan singkatnya.

http://www.waralabaku.com/

About Chras D. S.

I wanna be A good writer . . .

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Alexa Rate

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: