/////
you're reading...
Buku.

China Undercover: Suara Hati Petani yang Terbungkam.


[ebook] China Undercover-Rahasia dibalik Kesuksesan China.


Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi

CERITA tentang keagungan negeri Tiongkok dalam buku-buku sejarah dan pelajaran di sekolah tidak seratus persen benar. Selama ini, asumsi tentang negeri komunis itu berkait erat dengan keagungan peninggalan sejarahnya, kekaisarannya yang mentradisi, kemajuannya bak “macan Asia”, dan atribut keagungan lainnya. Tetapi, semua itu dibantali buku China Undercover ini.

Buku ini melihat sisi lain dan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui masyarakat dunia tetapi dirasakan oleh rakyat di negara itu. Tak lain karena adanya pembatasan informasi yang sengaja dilakukan untuk dunia luar. Dengan demikian, kabar tentang negara berpenduduk terbesar di dunia itu hanya sebagian kecil yang keluar.

Tak heran buku ini pernah membuat gerah pemerintah Tiongkok. Akibat pelarangan peredaran buku ini, edisi bajakannya justru terjual 10 juta kopi. Jadi, Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi

Mayoritas masyarakat Tiongkok adalah petani. Tetapi petani di negara itu (sebagaimana jiiga di negara-negara lain), tidak ditempatkan pada posisi yang semestinya. Mereka dieksploitasi tidak saja dengan cara memainkan harga gabah, tetapi juga banyaknya pungutan liar dan penggelapan pajak. Anehnya, itu semua dilakukan oleh pejabat di tingkat lokal.

Karena itu, buku ini mengungkap ketidakadilan yang menimpa 900 jiwa petani di Provinsi Anhui (provinsi paling miskin di Tiong¬kok). Dari sanalah berbagai persoalan ketidakadilan diungkap dan dari sana pula angin perubahan siap diembuskan dengan martir-martir para petani.

Salah satu martir itu bernama Ding Zuoming. Dia seorang petani miskin dari Desa Luying, Kecamatan Jiwangchang, Kabupaten Lixin, Anhui. Meskipun petani, dia sangat berbeda dengan petani kebanyakan. Dia cerdas, punya akses informasi banyak, dan yang pasti punya keberanian. Ding dan kawan-kawan memprotes para kader desa yang telah memeras petani di bidang pajak.

Itu jelas kebijakan yang berten-tangan dengan partai. Karena itu, Ding minta audit keuangan desa. Tentu saja kengototan dia mendapat tentangan pejabat yang berkuasa. Ding terlibat perkelahian de¬ngan Ding Yanle, salah seorang antek pejabat. Tetapi bukan dia yang dibela meski benar, dia bahkan diwajibkan membayar pengobatan Ding Yanle dan membayar biaya angkutan untuk pengobatannya. Akhiraya, Ding Zuoming menemui ajalnya.

Dalam sejarah Anhui kejadian itu dikenal dengan “Peristiwa Ding Zuoming”. Peristiwa yang terjadi pada 21 Februari 1993 dan berakhir dengan kematian Ding Zuoming keesokan harinya itu tidak pemah dilupakan masyarakat setempat. Seorang petani yang mengorbankan kehidupan mudanya untuk memprotes ketidakadilan. Kisah Ding bisa didapatkan dalam tulisan berjudul Sang Martir.

Lain lagi dengan kisah Sebuah Lingkaran Setan yang nienceritakan dua orang warga mati terbunuh dan seorang luka berat. Insiden yang terkenal dengan istilah “Cadangan Kas Desa” tersebut terjadi pada 4 November 1995. Insiden itu meletus karena perlawanan akibat penggelapan pajak dan pemerasan atas rakyat jelata di Shensai.

Tak heran buku yang ditulis selama tiga tahun ini begitu membuka mata lebar-lebar masyarakat dunia. Buku China Undercover pemali menggemparkan Beijing Book Fair. Itu terbukti dengan pe-sanan 60.000 eksamplar langsung habis dalam waktu tiga hari. Tidak itu saja, cetakan pertama terjual 100 ribu eksamplar dalam waktu satu bulan.

Chen dan Wu, dua penulis buku ini, bukan tanpa periawanan dari pejabat yang dikritik. la bahkan sempat diadili, dikeluarkan dari pekerjaannya, dan rumahnya dilempari batu oleh gerombolan orang. Yang membuat mereka hampir frustasi, mereka tidak boleh mempublikasikan dan menerima wawancara media massa di Tiongkok. De¬ngan pertimbangan matang dan siap menerima risiko, keduanya bersedia menerima wawancara wartawan dari luar negeri. Tak lain agar gaung penindasan di Tiongkok bisa terse-bar ke seluruh dunia.

Jika diamati lebih jeli, buku ini memuat serangkaian kjsah yang secara umum merujuk pada istilah Triple-Agri (San-Nong), yakni masalah pertanian, wilayah pedesaan, dan petani. Triple-Agri men¬jadi ciri khas masalah di Tiong¬kok. Bahkan Triple-Agri sebenarnya bukan semata-mata persoalan pertanian maupun ekonomi saja, tetapi ia sudah menjadi masalah terbesar yang dihadapi penguasa negeri itu. Sebab, masyarakat Ti¬ongkok mayoritas hidup di bidang pertanian dan tinggal di pedesaan.

Selama bertahun-tahun, kesan yang didapatkan tentang Tiongkok dari media massa hanyalah ber¬bagai laporan yang mengembar-gemborkan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Pengetahuan orang-orang kota tentang petani di Tiongkok jauh dari kenyataan.

Buku ini memang dilarang di ne-garanya, tetapi justru terus tersebar secara diam-diam di luar. Dampaknya begitu luar biasa. Tidak saja karena penyampaian nyata atas fakta yang menimpa, para petani dan orang miskin Tiongkok. Tetapi, pembaca akan digiring untuk bersimpati kepada mereka yang “terbuang”. Yakni para petani sebagai tulang pungung negara, seperti di Indonesia

Fakta-fakta yang disampaikan, Chen dan Wu hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari wilayah-wilayah “terlarang” yang manakutkan dengan teknik penulisan jurnalisme Termasuk kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang mereka sembunyikan dalam rapat-rapat publik, terutama oleh pejabat tingkat kecamatan dan provinsi. Kenyataannya, kebenaran dilumpuhkan, kebohongan bertambah subur

Buku ini manantang setiap asumsi atas kisah orang-orang Tongkok selama ini. Buku ini harusnya menjadi bacaan penting bagi siapa saja yang tertarik mengenai apa yang terjadi sebenarnya di RRT

Chen dan Wu telah memberikan contoh, kita di Indonesia sebennya bisa ikut tergugah. Kenapa ? Rakyat miskin di negeri ini juga masih sangat banyak. Petani terus dicekik. Harga gabah yang rendah sementara pemerintah seolah duduk “di menara gading” tak pernah melihat ke bawah.

Download E-booknya di sini…

About Chras D. S.

I wanna be A good writer . . .

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

Alexa Rate

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: